Teringat senandung cinta Ibu Kala aku lelap dalam peluknya "Anakku, kamu harus tahu Kamu sama sepertinya Hanya, jiwamu ditempa panas api Yang disebut sudut pandang" Aku tahu runcing sudut mataku Mengundang seribu julukan Atau terang warna kulitku Buatmu tak merasa nyaman "Tak apa, nak" Kata Ibu "Kalau yang kamu tanam cinta kasih Jalan terus, meski tertatih" Langkahku berat Tersendat Banyak yang bilang aku gila Tapi kenapa? Karena aku memilih untuk berbeda? Keluar dari norma? Dan menjelajah? Lagipula, senandung Ibu selalu kuingat "... Jiwamu ditempa panas api Yang disebut sudut pandang..." Dan akupun melangkah Menapak api dan duri Kadang terhempas Namun bangkit kembali